One More Time, One More Chance; A Short Reverie

Semalam ini sesaat aku menutup gerbang rumahku aku melihat burung yang melesat tinggi dengan dengung kencang di angkasa malam. Jauh di bawah aku melihat, burung itu seperti payah, padahal ku tahu di sana ia melesat cepat menembus langit malam. Bagaimana rasanya melihat tanah melayang seperti itu?, pikirku. Kemudian aku teringatmu.

Di dalam motorku masih menderu. Bagaimana jika aku ingin melihatmu?, tanyaku egois seiring berjalan masuk dan mematikan derunya. Aku tak ingat bagaimana cara memainkan tuts piano atau pun senar gitar selayaknya di hari mudaku. Senandungku lirih mengiringiku memasuki rumah. Wajahmu besar terpampang membuatku sakit.

Ledak tangis bocah rumah sebelah tak berderai. Malang, pikirku. Kenakalan apa lagi yang telah dia perbuat, pikirku. Kemudian aku kembali teringat akan dirimu. Bagaimana dengan semua kenakalan kanak-kanak yang selalu kita lakukan?, aku tertawa miris. Di kamar uang berceceran; Angin menerbangkannya seperti aku melihat burung mesin raksasa yang melayang tadi. Terbang itu bebas, pikirku.

Bagaimana jika semua uang ini bisa membelikanku sebuah tiket bertemu denganmu?, tanyaku egois sambil memungut lembar demi lembar uang sereceh yang tercecer di lantai. Tadi di seperjalananku pulang aku melihat si penjual burung dengan semua dagangannya. Miris bagaimana dia menjual kebebasan makhluk-makhluk itu dan menukarkannya dengan berlembar uang. Apakah uang Tuhannya? Aku berbaring.

Hei kau, yang datang dan pergi seenak hati. Aku tak berkacamata. Tak juga mampu memetikkan sebait lagu di atas gitar, begitu pula piano. Tapi aku bisa melihatmu yang kian berjalan menapak waktu. Aku ingat bualan salah kirim pesanku hanya untuk tahu kau baik-baik saja. Aku ingin sesekali berbisik padamu, “Bisakah kita berbaring menatap malam dan melupakan dunia sesaat?”

 

-fin-


Starduster; A Short Reverie

Sinar matahari menelusup lembut membelai wajahku. Ah, siapa yang menyibak tirainya?, pikirku. Kutarik selimut tipis tuaku menutupi kepala, bergelut melawan pagi. Sedang ku tak ingin beranjak, jam beker memekik. Ah, matikan deru suaranya!, makiku dalam hati. Dengan gontai kugapai benda tersebut dan membantingnya ke lantai, meremas kepalaku dan mengeluh keras kepada tembok yang bergeming. Aku ingin berteriak, tetapi meneriakkan apa? Berteriak pada apa/siapa? Jadi kulangkahkan kedua kaki malasku membuka pintu dan melemparkan tubuhku ke atas sofa. Ah, di mana remot sialan itu?!, aku terus merunyam tanpa sedikit pun tergugah untuk bangkit dan meraih remot yang ada di meja. Aku hanya memaki, menghujat, entah kepada apa/siapa. Lelah, aku menatap lesu ke arah plafon – sesekali mengerjap-ngerjapkan kedua mata, bangkit dan meninggalkan rumah.

Tadi ada beberapa orang tua berpakaian hitam rapi sekitar tiga atau empat nisan dari tempatku. Paras mereka begitu tua dan rapuh. Mungkin menyesali apa yang tak sempat dicapai saat yang terbaring di bawah sana masih hidup. Aku mungkin tak jauh berbeda dengan mereka. Terlebih terhadapmu, jiwa tenang yang terbaring di bawah sana. Ke mana kau telantarkan pisau cukurmu?! Lihat sudah pukul berapa sekarang!, aku rindu menghabiskan pagi denganmu. Kau berisik, padahal kau bukan ibuku. Tapi biarlah, aku rindu. Tadi ada seputik bunga – entah apa namanya – jatuh di atas makammu. Kupungut dan kubuang, tanpa tahu apa salah bunga malang itu. Biarlah, aku rindu hanya berdua denganmu.

Di jalan pulang gerimis kecil mengguyur tanah tempat kita berpijak. Di seberang sana bisnis berlari, kasihan sekali artis yang ada di billboard itu, takkan lama namanya akan luntur juga sama seperti wajahnya yang sudah mulai luntur tergusur air hujan. Layar raksasa menyiarkan iklan komersial – persetan tak ada yang memedulikannya juga – lalu perhatianku terarah pada lagu yang diputar. Apakah ada ruang bagiku untuk bernapas? Aku kembali melangkah.

Kepadamu, yang datang dan pergi, berlalu lalang seenak hati. Aku sampaikan padamu lewat desir angin dan serintik hujan. Aku telah melangkah. Karena hidup terus berjalan, waktu tak menunggu. Tanpa meninggalkan kesaksian, tanpa berbisik memberitahu. Tak peduli engkau yakin, atau ragu. Aku terus melangkah. Menuju masa depan, meski tak mampu menoleh dari masa lalu.

Bagaimana denganmu? Masihkah memenjara hati? Pada orang yang tak mampu menjanji, bahkan tepati?

Dan begitulah aku tahu, meski demikian, kita masih sama-sama bernapas. Dalam atmosfer yang sama, dalam rengkul dunia yang tak berbeda. Namun dengan cara kita masing-masing, yang terjarak puluhan ribu tahun dari para bintang.

 

-fin-


First post. Let’s say hi to the world.